Kisah tentang prilaku amal saleh

“Ada tiga orang pada zaman dahulu melakukan perjalanan. Pada suatu malam mereka berlindung di dalam gua. Tiba-tiba runtuhlah bebatuan gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata: kita tidak akan selamat keluar dari bukit ini kecuali kalau kita berdoa kepada Allah dengan mengenang amal saleh kita. Seorang lelaki di antara mereka berkata: Ya Allah, Engkau tahu  dahulu aku punya ayah bunda yang tua-renta. Aku selalu memberikan minuman kepada mereka di malam hari sebelum keluargaku yang lain dan sebelum hartaku. Pada suatu hari aku terlmbat pulang karena mencari kayu bakar. Ketika aku sampai di rumah, kedua orangtuaku sudah tidur. Aku mengambil air susu untuk mereka; aku dapatkan mereka suadah tertidur dan tidak ingin memberikannya sebelum mereka kepada anak istriku. Begitulah berlangsung semalaman. Dengan cawan susu itu di tanganku, aku menunggu mereka bangun sampai terbit fajar dan anak-anakku kehausan di hadapanku. Ketika mereka bangun, keduanya meminum air susu itu. Ya Allah, jika Engkau tahu aku melakukannya karena mengharapkan ridoMu, bebaskanlah kami dari penjara bebatuan ini.  Gua itu pun terbuka sedikit, tetapi tidak memungkinkan mereka semua keluar.

Yang berikutnya berkata: Tuhanku, Engkau tahu dahulu aku jatuh cinta sama saudara sepupuku perempuan. Aku mengajaknya berkencan, tetapi ia menolakku. Aku menderita karenanya selama satu tahun. Kemudian ia datang kepadaku dan kuberi dia seratus dua puluh dinar agar mau berkencan denganku. Ia menerimanya sampai ketika aku hampir melakukannya ia berkata; Takutlah kepada Allah, janganlah engkau menggauliku kecuali dengan haq. Aku lepaskan dia dan aku tinggalkan dia, padahal dia orang yang paling aku cintai. Aku tinggalkan uang emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah, jika aku melakukannya semata-mata karena takut kepadaMu, bebaskanlah aku dari tempat ini. Gua itu pun terbuka sedikit, tetapi tidak memungkinkan mereka semua keluar.

Berkata yang ketiga: Ya Allah, dahulu aku mempunyai pegawai yang selalu aku bayarkan upahnya, kecuali seorang di antara mereka. Ia meninggalkan upahnya yang merupakan haknya. Ia pergi begitu saja. Aku kembangkan upahnya itu sehingga menjadi kekayaan yang banyak. Selang berapa lama ia datang lagi padaku, “Hai hamba Allah, berikan upahku. Aku berkata: Semua yang kamu lihat itu berupa unta, sapi, kambing, dan budak, semuanya milikmu. Dia berkata: Wahai hamba Allah, jangan bermain-main denganku. Aku berkata: Aku tidak bermain-main, ambillah. Ia punmengambil seluruhnya dan tidak menyisakan sedikitpun. Ya Allah, jika aku melakukan semuanya itu karena mengharapkan ridoMu, lepaskanlah kami dari tempat ini. Terbukalah pintu gua itu dan semuanya keluar dengan selamat.” (H. S. Al-Bukhari).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s